**1. LKPD Dasar Lengkap**
Minggu, 18 Oktober 2026
10 prompt AI buat bikin LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) Semua Mapel Semua Kelas & Jenjqng‼️👇
30 Prompt AI untuk Membuat Soal Ulangan Otomatis bagi Guru
Minggu, 05 Oktober 2025
Pengimbasan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA) untuk jenjang SMP
Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA) untuk jenjang SMP.
1.
Mata Pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) pada Kurikulum Nasional
Mata
pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) diintegrasikan ke dalam
kurikulum untuk membekali peserta didik dengan keterampilan abad ke-21 yang
esensial di era digital.
Tujuan
Utama:
- Membentuk keterampilan
berpikir komputasional untuk menyelesaikan masalah secara logis,
sistematis, dan kreatif.
- Menciptakan warga digital
yang literat, produktif, dan bertanggung jawab.
- Memberikan keterampilan
dalam mengelola dan memanfaatkan data.
- Mengajarkan cara berkarya
melalui koding dan pemanfaatan KA.
Karakteristik
Pembelajaran:
- Kontekstual: Sesuai
dengan situasi kehidupan sehari-hari.
- Fleksibel: Dapat
dilaksanakan secara plugged (dengan perangkat) maupun unplugged
(tanpa perangkat).
- Berpusat pada Manusia:
Menekankan etika dan menempatkan manusia sebagai fokus utama dalam
pengembangan KA.
Posisi
dalam Kurikulum:
Mapel
KKA adalah mata pelajaran pilihan dari kelas 5 hingga 12, melengkapi mata
pelajaran wajib Informatika di jenjang SMP dan SMA1. Pembelajarannya diarahkan
untuk membangun keterampilan praktis yang lebih mendalam dibandingkan
Informatika.
2.
Literasi Algoritma dan Konten Digital
Bagian
ini berfokus pada dua pilar utama: pengelolaan data menggunakan berpikir
komputasional dan produksi konten digital.
Berpikir
Komputasional dalam Pengelolaan Data:
Ini
adalah pendekatan logis dan sistematis untuk memecahkan masalah yang terdiri
dari empat pilar utama:
- Dekomposisi: Memecah
masalah kompleks menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan mudah dikelola.
Contohnya, saat menghitung waktu tempuh, masalah dipecah menjadi
identifikasi jarak, waktu, jenis jalan, dan kondisi lalu lintas.
- Pengenalan Pola:
Mengidentifikasi tren atau kesamaan dalam data untuk memberikan informasi
berharga. Ini mencakup pembersihan data dari kesalahan seperti duplikasi
atau nilai yang hilang.
- Abstraksi: Fokus
pada informasi yang penting dan mengabaikan detail yang tidak relevan. Contohnya,
menghitung kecepatan rata-rata berdasarkan kategori jalan tanpa
memperhatikan setiap detail kecil perjalanan.
- Algoritma:
Mengembangkan langkah-langkah terstruktur untuk menyelesaikan masalah. Contohnya,
menyusun instruksi untuk menghitung total waktu tempuh dengan rumus dasar
dan menambahkan faktor eksternal seperti kemacetan.
Produksi
dan Diseminasi Konten Digital:
- Produksi Konten: Melibatkan
pembuatan berbagai jenis konten (teks, gambar, video) dengan memperhatikan
strategi pesan, audiens, dan prinsip desain grafis seperti kesatuan,
keseimbangan, dan kontras.
- Diseminasi Konten:
Proses penyebaran konten melalui berbagai platform digital seperti media
sosial, blog, dan platform video (YouTube, TikTok) untuk menjangkau
audiens yang lebih luas.
3.
Etika dan Risiko Kecerdasan Artifisial
Modul
ini membahas secara spesifik
KA
Generatif, yaitu model deep learning yang mampu menghasilkan konten
baru seperti teks, gambar, atau suara.
Prinsip
Kerja:
KA
Generatif bekerja berdasarkan model yang dilatih menggunakan data dalam jumlah
besar (dataset). Kualitas model sangat bergantung pada kualitas data
latihnya. Jika data tidak akurat atau bias, hasilnya juga akan buruk.
Etika
dan Risiko:
- Penyalahgunaan dan
Hoaks: Kemampuan KA Generatif untuk menciptakan konten realistis
membuka risiko penyebaran informasi palsu atau hoaks.
- Bias Data: Jika data
pelatihan mengandung bias (misalnya, bias gender atau ras), maka hasil
yang dikeluarkan oleh KA juga akan bias, menghasilkan keputusan yang tidak
adil.
- Hak Cipta: Muncul
tantangan mengenai kepemilikan karya yang dihasilkan oleh KA, karena
sebagian besar aturan hak cipta hanya berlaku untuk karya buatan manusia.
- Deepfake: Ini adalah
teknik manipulasi video atau audio menggunakan KA untuk menciptakan konten
palsu yang sangat meyakinkan. Penting untuk dapat mengenali ciri-ciri
deepfake, seperti kejanggalan pada ekspresi wajah, kedipan mata, atau
gerakan bibir.
4.
Komunikasi Melalui Tools Kecerdasan Artifisial
Modul
ini menjelaskan bagaimana manusia berinteraksi dengan sistem KA melalui
berbagai perangkat.
Jenis
Perangkat KA untuk Komunikasi:
- Chatbot: Program
yang menjawab pertanyaan pengguna secara otomatis (contoh: ChatGPT,
DeepSeek).
- Asisten Virtual: Membantu
pencarian informasi dan pengelolaan jadwal (contoh: Google Assistant,
Siri).
- Penerjemah Otomatis:
Memfasilitasi komunikasi antarbahasa (contoh: Google Translate).
Cara
Kerja Sistem KA:
Sistem
KA bekerja melalui tiga tahap dasar:
- Input: Menerima data
dari pengguna (teks, suara, gambar).
- Proses: Menganalisis
data menggunakan algoritma.
- Output: Memberikan
respons atau hasil yang sesuai.
Klasifikasi
dalam KA:
Klasifikasi
adalah proses mengelompokkan data ke dalam kategori tertentu. Salah satu
metodenya adalah
Supervised
Machine Learning, di mana model dilatih menggunakan data yang sudah diberi
label (contoh: gambar buah diberi label "apel" atau
"jeruk") untuk dapat mengenali dan mengklasifikasikan data baru.
5.
Prinsip Pedagogik dalam Pembelajaran KKA
Untuk
mengajarkan Koding dan KA secara efektif, guru perlu menerapkan prinsip-prinsip
pedagogik modern.
- Pembelajaran Berbasis
HOTS (High Order Thinking Skills): Fokus pada keterampilan berpikir
tingkat tinggi seperti menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta, bukan
sekadar mengingat atau memahami. Tujuannya adalah agar siswa
mampu mentransfer pengetahuan ke situasi baru (
transfer
of knowledge), memecahkan masalah (problem solving), serta berpikir
kritis dan kreatif.
- Kerangka TPACK
(Technological Pedagogical Content Knowledge): Sebuah model yang
mengintegrasikan tiga komponen utama pengetahuan guru: Teknologi (TK),
Pedagogi (PK), dan Konten (CK). Guru yang efektif mampu memadukan
ketiganya untuk menciptakan pengalaman belajar yang relevan dan
memanfaatkan teknologi secara optimal.
- Pendekatan Pembelajaran
Mendalam (Deep Learning): Sebuah pendekatan yang menekankan pemahaman
konsep yang bermakna, bukan hafalan. Ini dicapai melalui tiga elemen:
- Meaningful Learning:
Peserta didik merasa materi relevan dengan kehidupannya.
- Mindful Learning:
Peserta didik sadar dan terlibat aktif dalam proses belajarnya
(metakognisi).
- Joyful Learning:
Menciptakan pengalaman belajar yang positif dan menyenangkan.
Jumat, 24 April 2015
DR. WARSITO P. TARUNO PENEMU ALAT PENYEMBUH KANKER
Salah satu sumber artikel http://www.ristek.go.id/index.php/module/News+News/id/14449 dan sumber lain yang disebutkan dibawah artikel.
Alat yang ditemukan oleh DR. Warsito P. Taruno belum dikomersialkan, anda yang benar-benar membutuhkan alat ini silahkan ke alamat dibawah ini :
CTECH LABS Edwar Technology
(Telpon sementara sulit masuk karena terlalu banyak yang telpon sebaiknya anda datang langsung).
Data yang diperlukan:
1. Fotocopy KTP (Ybs dan Wali)
2. Surat pernyataan volunter ingin memakai alat (dikenai biaya pembuatan alat) dan surat rekomendasi dokter.
3. Hasil scan (CT, MRI, PET, USG, dsbnya), keterangannya difotokopi.
4. Fotokopi hasil lab.
Info tambahan:
Lab buka Senin s.d. Jum’at, mulai pukul 9.00 s/d 17.00 dan Sabtu 1/2 hari. Minggu tutup.
Tak sedikit peneliti Indonesia yang lebih suka berkarir dan bekerja di luar negeri ketimbang di dalam negeri. Sebab, di luar negeri lebih menjanjikan. Tapi, itu tak berlaku bagi Warsito P. Taruno.
Lama-kelamaan, lembaga tersebut berkembang pesat, meski berkantor di ruko di kawasan perumahan Modernland, Tangerang. Sejumlah sistem dan alat berhasil diciptakan Warsito dan kini menjadi incaran dunia internasional.”Saya ingin pulang ke Indonesia dan melakukan riset sendiri,” jelas Warsito ketika ditemui di kantornya, Ctech Labs Edwar Technology, kemarin (29/12).
Kini Warsito dan timnya tengah mengembangkan alat pembasmi kanker otak dan kanker payudara. Alat tersebut berupa teknologi pemindai atau tomografi kapasitansi listrik berbasis medan listrik statis (electrical capacitance volume tomography/ECVT).
Brain activity scanner dibuat Warsito sejak Juni 2010. Alat tersebut berfungsi mempelajari aktivitas otak manusia secara tiga dimensi. Bentuk alat tersebut mirip helm dengan puluhan lubang connector yang dihubungkan dengan sebuah stasiun data akuisisi yang tersambung dengan sebuah komputer.
Alat itu bisa mendeteksi ada tidaknya sel kanker di otak. “Dengan alat itu, juga bisa dilihat seberapa parah kanker otak yang diderita pasien,” jelas Warsito.
Sementara itu, breast activity scanner diciptakan pada September lalu. Sedikit banyak, dua alat itu memiliki kesamaan, yakni mendeteksi adanya sel kanker di tubuh.
Warsito telah membuktikan keampuhan alat ciptaannya kepada kakak perempuannya yang menderita kanker payudara stadium IV. Terdorong oleh kondisi kakaknya, Suwarni, alumnus Jurusan Teknik Kimia Shizuoka University, Jepang, tersebut menciptakan breast cancer electro capacitive therapy yang berbasis listrik statis.
Bentuk alat tersebut dibuat mirip dengan penutup dada yang mengandung aliran listrik statis di bagian dalam. Penutup dada berwarna hitam itu terhubung dengan sebuah baterai yang bisa di-charge. “Sengaja dibuat mirip dengan penutup dada biar mudah digunakan,” papar Warsito.
“Bau busuk itu berasal dari sel kanker yang sudah mati dan dikeluarkan lewat urine, keringat, dan feses. Tapi, si penderita tidak merasakan sakit, hanya gerah,” paparnya.
Serupa dengan metode yang diterapkan kepada sang kakak, Warsito mengenakan alat tersebut kepada pemuda itu selama sebulan pada September lalu. Karena alat itu dipakai di kepala, pasien akan merasakan gerah pada bagian kepala.
Pada tiga hari awal pemakaian alat tersebut, tingkat emosi pasien akan meningkat. Setelah itu, muncul gejala-gejala keringat berlendir hingga feses yang baunya lebih nggak enak.
Warsito menceritakan, awalnya pemuda tersebut mengalami lumpuh total. Dia tidak bisa bangun dari tempat tidur, bahkan tidak mampu menelan makanan. Sel kanker telah menyebar di area pangkal otak penderita itu. Namun, setelah seminggu pemakaian alat tersebut, pemuda itu sudah bisa bangun dari tempat tidur serta menggerakkan tangan dan kaki.
Setelah keberhasilan dua pasien itu, Warsito menerima banyak pesanan. Bahkan, jumlahnya mencapai ratusan. Saat pesanan membeludak, para staf Warsito terpaksa bekerja ekstrakeras hingga larut malam. Sebab, setiap pasien tidak bisa menggunakan alat yang sama. “Alat terapi itu harus dibuat sesuai dengan kondisi pasien sehingga tidak sama antara satu dan yang lain,” jelasnya.
Karena masih tergolong riset, harga alat terapi itu tergolong sangat terjangkau, hanya sekitar Rp 1 juta. Saat ini alat pembasmi kanker tersebut telah didaftarkan di Kementerian Kesehatan untuk mendapat izin edar. “Kalau sudah ada izin, bisa segera digunakan oleh masyarakat luas. Harga bisa berubah, tapi pastinya masih terjangkau,” ucap dia.
Keberhasilan Warsito tersebut ternyata juga menjadi perhatian dunia internasional. Salah satu di antaranya, The University of King Abdulaziz, Saudi Arabia. Universitas yang berlokasi di kota Jeddah itu sudah memesan breast activity scanner dan brain activity scanner. “Dan satu lagi alat scanner untuk perminyakan yang menggunakan sistem ECVT 128 channel,” jelasnya.
Sebuah rumah sakit besar di India pun sudah memesan sejumlah alat terapi kanker payudara ciptaan Warsito. “Ya, baru beberapa hari lalu kami melakukan clinical test di India,” imbuh dia.
NASA menggunakannya pada pesawat ulang alik. Teknologi tersebut memungkinkan untuk melihat tembus timbunan material di dinding luar pesawat ulang alik. “Kalau ada timbunan air di bagian luar pesawat, dindingnya bisa terbakar,” jelasnya.
Tidak hanya itu. Saat mengajar di Ohio State University pada 2001, dia berhasil mengembangkan tomografi kapasitansi listrik berbasis medan listrik statis. Paper yang menjelaskannya dimuat di jurnal Measurement Science and Technology. Artikel tersebut menjadi paper yang paling banyak diakses di penerbitan online oleh Institute of Physics (London).
“Tapi, saya maunya mereka membayar 100 persen di muka. Awalnya mereka pikir-pikir. Tapi, setelah saingan mereka Washington State University juga tertarik membeli, mereka langsung oke,” jelasnya.
Dari situ kondisi keuangan Warsito membaik. Tanpa bantuan pemerintah, dia mulai bisa menciptakan temuan-temuan yang lain. Di antaranya, temuan yang dinamakan Sona CT Scanner. Alat tersebut adalah scanner berbasis ultrasonik untuk tabung gas bertekanan tinggi. Alat tersebut merupakan pesanan PT Citra Nusa Gemilang, pemasok tabung gas bagi bus Transjakarta.
Berkat sejumlah temuannya, Warsito pernah diganjar beberapa penghargaan. Di antaranya, penghargaan rintisan teknologi industri, Kemenperin; penghargaan inovator teknologi, Kemenristek; hingga penghargaan Achmad Bakrie pada 2009 untuk teknologi.



